Wah, Ternyata Inilah Rahasia Suksesnya Siswa Di Jepang

Kita semua mengetahui bahwa Jepang merupakan negara maju dengan penduduknya yang kreatif, inovatif, dan berpendidikan. Hal unik dalam pendidikan di Jepang, sangat dijunjung pendidikan moral terhadap sesama manusia, pendidikan moral ini berakar dari budaya leluhur masyarakat Jepang yang sangat menghargai sesama sebagai esensi utama dalam kehidupan.

Dalam pendidikan di Jepang, dikenal dengan istilah Kyoiku Mama (Ibu Pendidik) yaitu di mana seorang Ibu tidak akan pernah berhenti mendorong anak – anaknya untuk belajar sekaligus menciptakan keseimbangan pendidikan yang baik dalam hal fisik, emosional, maupun sosial. Istilah Ryosai Kentro (istri yang baik dan ibu yang arif) menggambarkan suatu kebijakan yang memposisikan kaum wanita sebagai ‘penguasa rumah’, yang bertanggung jawab atas segala sesuatu yang terjadi di rumah.

Dari mulai pekerjaan – pekerjaan rumah tangga, masalah keuangan, dan pendidikan anak. Intinya menyerukan bahwa peran terhormat wanita adalah sebagai istri yang baik dan bijaksana, pembagian peran alami sesuai fitrah antara perempuan dan laki laki.

Salah satu faktor penyebab Jepang bisa begitu maju adalah sumber daya manusia yang sangat aktif, disiplin, dan kreatif sehingga Jepang selalu saja menciptakan inovasi-inovasi terbaru yang membantu perkembangan Jepang. Hal ini tentu saja bisa terjadi berkat sistem pendidikan di Jepang yang mampu membentuk pola pikir masyarakat Jepang sehingga mereka mampu menjadi sumber daya manusia yang sangat kreatif. Lalu, Bagaimana sih sebenarnya sistem pembelajaran di Jepang?

Sistem Pendidikan di Jepang

Kualitas pendidikan di Jepang memang tak perlu dipertanyakan lagi, jika melihat berhasilnya Jepang untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Salah satu yang paling berperan dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah kurikulum pendidikan di negara tersebut. Tak hanya di Indonesia yang gemar ganti kurikulum pendidikan, negara maju seperti Jepang pun kerap ganti kurikulum.

Perubahan tersebut mau tidak mau membawa dampak perubahan permintaan kualifikasi dan kompetensi pendidik di Jepang. Menurut Ahmad Sentosa dalam artikel berjudul Kurikulum dan Kompetensi Guru di Jepang, Ia menjelaskan untuk level pendidikan taman kanak-kanak (TK), di Jepang lebih cenderung merupakan lembaga pengembangan dan pelatihan kebiasaan sehari-hari. Karena itu pendidikan di level TK bukanlah pengajaran, tatapi lebih tepat disebut pendidikan.

Sedangkan untuk tingkat Sekolah Dasar (SD), sifat dan karakteristik kurikulum di Jepang hampir sama dengan kurikulum SD di Indonesia. Hanya yang membedakan adalah pada mata pelajaran kebiasaan hidup yang umumnya diajarkan di kelas 1 dan 2. Tujuan utama diajarkan mata pelajaran ini adalah untuk mengenalkan dan membiasakan anak-anak pada pola hidup mandiri.

Daripada mengajarkan mata pelajaran IPA dan IPS, Jepang lebih memilih memperkenalkan tata cara kehidupan sehari-hari kepada anak-anak yang baru lulus dari tingkat TK yang lebih memfokuskan kegiatan bermain daripada belajar di dalam kelas.

Pembelajaran utama seperti bahasa Jepang dan berhitung mempunyai porsi yang lebih dibanding pelajaran lainnya. Sedangkan pelajaran moral diajarkan tidak secara khusus dalam mata pelajaran tertentu, tetapi diajarkan oleh wali kelas sejam seminggu atau diintegrasikan melalui pelajaran lain.

Dan pendidikan moral sudah termasuk pada pendidikan agama (Kristen, Budha, Shinto). Selain murid disibukkan dengan pendidikan akademik, pendidikan bersifat estetik berupa musik dan menggambar juga diajarkan dalam porsi besar di kelas 1 dan 2.

Untuk pendidikan SMP, kurikulum menitik beratkan pada pendidikan bahasa Jepang, matematika, IPA dan IPS. Sedangkan pendidikan bahasa asing seperti Inggris dan Jerman tidak diwajibkan dan hanya bersifat pilhan bagi murid. Pelajaran bahasa Inggris baru dijadikan pelajaran wajib di level SMP pada kurikulum 2002.

Adanya mata pelajaran pilihan seperti bahasa Jepang, IPS, matematika, IPA, musik, art, pendidikan jasmani, keterampilan, dan bahasa asing, merupakan pembeda khas antara kurikulum pendidikan SMP di Jepang dan Indonesia. Selain pendidikan utama di Jepang juga dilengkapi dengan pendidikan ekstrakurikuler seperti di Indonesia.

Dibandingkan kurikulum SD dan SMP, kurikulum SMA di Jepang paling sering berubah. Pada tingkat ini sudah diadakan sistem penjurusan seperti di Indonesia.

Sifat khas kurikulum SMA adalah kompleksnya pelajaran yang diajarkan. Contohnya pelajaran bahasa Jepang yang mulai dikelompokkan menjadi literatur klasik dan modern. Penjurusan dilakukan di kelas 3, jurusan yang ada meliputi IPA dan budaya/sosial. tetapi seiring berjalannya waktu penjurusan mengalami perkembangan karena banyaknya lulusan SMA yang memilih akademi yang terkait dengan teknik, pertanian, perikanan, kesejahteraan masyarakat, dan lain lain.

Bukan hanya di Indonesia saja banyak pro dan kontra tentang kurikulum pendidikan, di jepang pun kurikulum dilakukan secara top down, bukan bottom up. Karenanya banyak yang tidak dapat diterapkan di sekolah secara optimal.

Dan pada akhirnya mendapat protes keras dari para guru.  Di Jepang memperlakukan kegiatan belajar di luar secara berkala, mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan lahan pertanian atau perkebunan untuk belajar memetik teh, jeruk dan menggali umbi-umbian, bahkan sampai belajar menanam padi di sawah.

Di lain waktu, siswa secara berkelompok diajarkan cara menumpang kereta (densha) untuk melatih kemandirian, selain itu diselingi kegiatan wawancara dengan berbagai narasumber kemudian menjadi bahan untuk presentasi di depan kelas.

Sepertinya untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas tidak hanya bergantung pada sistem pendidikan itu sendiri, tapi setiap sistem dan orang di dalamnya seperti guru dan para pelajar pun harus ikut mendukung untuk mencapai visi dan misi yang sama. Jadi, Jepang dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas pun tidak semata-mata dengan hasil instan tapi dengan proses yang hampir sama dengan negara maju lain pada umumnya.

Karena seperti yang dikatakan sebelumya proses kurikulum di Jepang pun tidak lepas dari kata bongkar pasang, tapi dengan loyalitas para pengajar dan tingkat kedisiplinan pelajar akhirnya dapat menciptakan banyak SDM berkualitas.

Keseharian Pelajar di Jepang

Banyaknya orang-orang Jepang yang sukses dan menjadi pencipta dari beragam teknologi canggih dan kreatif tak lepas dari pendidikan yang mereka jalani selama duduk di bangku sekolah. Lalu apa saja kegiatan yang mereka lakukan di sekolah selain belajar?

Jam Sekolah Dimulai

Bedanya dengan Indonesia, jam sekolah di negara kita mungkin jadi salah satu yang paling pagi ya. Pukul 07;00 WIB seluruh siswa harus sudah ada di sekolah untuk melangsungkan proses belajar mengajar. Namun kegiatan belajar sekolah di Jepang biasanya dimulai pukul 08.50. Jam segitu bagi kita mungkin udah mulai siangan ya? Tapi jangan salah, meskipun dimulai sesiang itu siswa-siswi Jepang harus bersiap-siap dari pagi-pagi betul.

Persis seperti kita, bedanya ada dari mereka yang berjalan kaki, menaiki bis, kereta, ataupun naik sepeda. Sebagian dari kalian mungkin bertanya-tanya, kenapa murid di Jepang masuk sekolahnya pukul 08.50? Ternyata di Jepang itu pukul 07:00 pagi saja masih belum terlalu terang, seperti subuh gitu kira-kira. Pukul 07:00 malam aja masih terang. Biasanya saat senggang di dalam kereta atau bis, mereka mendengarkan musik atau membaca buku.

Membaca novel adalah salah satu kebiasaan siswa di Jepang. Bagi mereka, sekolah jauh ga jadi masalah, yang penting sekolah itu bagus dan berkualitas. Untuk menunjukkan reputasi sekolahnya, para pelajar bahkan diminta untuk tidak membaca, mengunyah permen karet, dan makan sambil jalan.

Setibanya di sekolah, mereka akan menyimpan sepatunya di loker sepatu dan menggantinya dengan sepatu khusus yang digunakan di ruang kelas. Tentunya di sana saat jam pulang sekolah dan perjalanan menuju rumah tidak ada siswa-siswi yang naik motor sambil main gadget looh, gak percaya? coba saja cek ke Jepang.

Kegiatan Siswa Jepang di Sekolah

Sebelum memulai pelajaran di kelas, terlebih dahulu siswa di Jepang terbiasa memberi salam. Ketua kelas atau guru mengucapkan “kiritsu” (berdiri) dan “re” (membungkuk). Pelajaran pokok SMA di Jepang adalah Bahasa Jepang sebagai bahasa nasional. Pelajaran lainnya yaitu Bahasa Inggris, Matematika, eksak (Kimia, Biologi, Fisika, dll) dan Sosiologi (Ilmu kemasyarakatan, Sejarah Jepang, Sejarah Dunia, Ekonomi Pemerintah dll). Selain itu juga ada Olahraga, “ongaku” (Musik), “bijutsu” (Seni rupa), dan “shodo” (seni kaligrafi huruf Jepang), serta juga terdapat kelas memasak dan juga diajari bagaimana cara membuat pakaian.

Sekolah Jepang hanya memiliki satu pelajaran bahasa asing, yaitu bahasa Inggris. Semua siswa menggunakan kamus elektronik (denshi jisho). Tidak hanya bahasa Inggris, bahasa Jepang pun terasa lebih mudah jika menggunakan kamus.

Di tiap sekolah biasanya memiliki gedung olahraga, halaman sekolah, dan kolam renang tersendiri. Gedung olahraga dan kolam renang di sana digunakan pada saat ada jam pelajaran olahraga voli, bola basket, sepak bola, dan berenang.

Waktu istirahat

Pada jam istirahat biasanya murid-murid Jepang membawa bekal yang mereka bawa dari rumah. Bekal yang mereka bawa dibuat oleh ibu mereka atau dibuat sendiri, ada juga yang dibeli di kantin di sekolah. Ruang kelas juga bisa dijadikan tempat makan selain kantin. Dan o-bento yang murid Jepang bawa itu biasanya tampilannya unik!

Pulang sekolah

Kegiatan belajar mengajar berakhir pada pukul 16.00 lewat. Sebelum pulang, mereka membersihkan kelas dulu, ada yang membersihkan papan tulis, nyapu, ngepel, dll. Lalu mengganti sepatu mereka yang tadi sudah disimpan di dalam locker.

Setelah pelajaran selesai, mereka tak lantas langsung pulang, ada yang mengikuti bimbingan belajar/les diluar sekolah, tempat les ini disebut “juku” ada juga yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler (yang terdiri dari sports clubs dan culture clubs, dan kegiatan siswa Jepang rata-rata padat lho, pake “banget”).

Anak-anak yang mengikuti les atau bimbingan belajar ini kebanyakan adalah anak-anak kelas III (Kelas XII) yang akan mengikuti ujian semester dan persiapan untuk masuk ke perguruan tinggi. Di Jepang, tidak ada UJIAN NASIONAL, Ujian Akhir Sekolah, atau Ujian Praktek. Jadi, siswa yang telah berhasil mengikuti tes ujian masuk perguruan tinggi, akan diumumkan nama perguruan tingginya di papan pengumuman yang ada di juku tersebut.

Fakta Unik Sistem Pendidikan di Jepang

  • Tidak ada Ujian dalam 3 Tahun Pertama Sekolah

Kebijakan tidak memberikan ujian pada siswa sampai mereka menginjak kelas 4 adalah karena orang Jepang lebih menghargai perilaku baik daripada nilai. Menurut budaya Jepang, lebih utama mengajarkan adab kepada siswa di kelas rendah daripada fokus mengetes kemampuan akademik mereka. Karena itu, karakter siswa harus lebih dulu dibangun. Siswa harus bisa menunjukkan rasa hormat kepada sesama siswa, juga pada gurunya.

  • Tidak ada Tukang bersih-bersih

Siswa di Jepang harus membersihkan sendiri ruangan kelas dan kamar mandi. Tujuannya adalah agar siswa belajar bekerja sama, berbagi tanggung jawab, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap fasilitas sekolah. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok yang piket bergiliran mengerjakan tugas-tugas, seperti menyapu, mengelap kaca jendela, menggosok WC, dsb. Setiap tahun kelompok tersebut dirombak dan digilir kembali.

  • Makan Sama Secara Teratur

Kecuali siswa yang mempunyai alergi serius, siswa di Jepang harus memakan menu sehat yang telah disediakan di sekolah. Siswa diajarkan untuk mengkonsumsi makanan sehat dengan cara mengutamakan bahan makanan dan porsi makanan yang masuk ke perut mereka. Menu disusun oleh koki berpengalaman bersama ahli gizi profesional. Secara umum, menu makan siang di sekolah seringnya terdiri dari bahan makanan lokal yang segar. Uniknya, para guru ikut makan siang bersama siswa. Hal tersebut dilakukan untuk menguatkan hubungan guru dan murid.

  • Seni Mata Pelajaran Utama

Siswa-siswa di Jepang diajarkan seni tradisional seperti Shodo (seni menulis indah atau kaligrafi Jepang) dan Haiku (salah satu jenis puisi). Dua seni tradisional tersebut diajarkan agar siswa menghargai budaya tradisional.

  • Baju, Sepatu dan Tas Seragam

Hampir semua sekolah di Jepang mengharuskan siswanya memakai seragam. Tidak ada standar baku tentang bentuk seragamnya, tetapi secara garis besar berupa baju hitam untuk siswa laki-laki, dan baju sailor dengan rok untuk siswa perempuan dengan potongan sederhana. Kebijakan ini bertujuan menanamkan ide bahwa ketika siswa memakai baju yang sama, mereka akan merasa menjadi bagian satu sama lain. Juga ada stigma yang berkembang bahwa daripada mengurusi tentang penampilan, para pelajar hendaknya fokus belajar saja. Banyak sekolah di Jepang yang mempunyai aturan ketat mengenai apa yang harus dipakai para siswa, termasuk tas, riasan, bahkan potongan rambut.

Perbedaan Pendidikan di Jepang dan Indonesia

Ada juga beberapa perbedaan lain antara Indonesia dan Jepang dalam sistem pendidikan seperti berikut.

  • Etika dan kedisiplinan

Sistem pendidikan yang paling mencolok antara Indonesia dan Jepang adalah dari segi kedisiplinan. Selain itu, etika juga menjadi salah satu hal yang semakin di perkuat dalam sistem pendidikan Jepang.

Indonesia kedisiplinan sangatlah kurang dan sangat sulit sekali untuk diterapkan. Bahkan dalam hal etika pun Indonesia sedang mengalami kemerosotan. Terbukti dengan banyaknya kasus guru yang dijebloskan ke penjara atau dipukuli orang tua murid gara-gara menegur muridnya.

  • Kemampuan belajar siswa

Dalam hal kemampuan belajar siswa, di Indonesia guru lebih memiliki kecenderungan melihat pada faktor individu pada muridnya. Jepang sehebat dan sepintar apapun siswa, jika ia tidak mampu bekerja sama dengan temannya, maka guru bisa saja tidak meluluskannya.

  • Mata pelajaran sekolah

Mata pelajaran di Jepang lebih sedikit. Jadi siswa bisa lebih fokus dalam belajar dan tidak merasa tertekan dengan pelajaran. Di Indonesia, seperti yang kita ketahui banyaknya mata pelajaran terkadang membuat murid merasa tertekan, stres dan bosan. Apalagi jika banyaknya pekerjaan rumah yang harus dikerjakan.

  • Penekanan pada siswa

Murid-murid di Jepang diajarkan untuk bisa berpikir kritis dalam kegiatan belajar mengajar. Sedangkan para siswa di Indonesia mulai dari tingkat SD sampai tingkat atas selalu dihadapkan pada hafalan.

  • Jam sekolah

Jam belajar di Jepang dimulai pukul 09.00 pagi dan berakhir pukul 04.00 sore. Indonesia umumnya adalah pukul 07.00 sampai pukul 01.00 siang. Saat ada siswa yang terlambat di Jepang, maka akan disuruh untuk membuat surat perjanjian tidak akan mengulanginya lagi. Jika mengulanginya lagi maka akan diberikan sanksi skorsing.

Sedangkan di Indonesia sangatlah berbeda. Siswa cukup meminta surat izin masuk dan menerima sedikit hukuman. Setelah itu ia diijinkan masuk keesokan harinya. Jika keesokan harinya melakukan pelanggaran lagi, prosedurnya tetap seperti itu sehingga terlihat kurang adanya ketegasan.

  • Transportasi

Siswa di Jepang mulai dari sekolah dasar hingga tingkat atas dilarang keras menggunakan kendaraan bermotor, baik roda dua atau roda empat ke sekolah.

Mereka biasa berangkat menggunakan transportasi umum seperti kereta dan bus, sepeda atau bahkan banyak yang jalan kaki. Sedangkan di Indonesia saat ini hampir kebanyakan anak sekolah membawa kendaraan motor roda dua ke sekolah. Bahkan sebagian anak pejabat di kota-kota ada yang membawa mobil. Seolah-olah sekolah menjadi ajang pamer kekayaan.

Hal ini sangat miris sekali. Bahkan kendaraan para siswa ini menyumbangkan kemacetan terutama saat waktu berangkat dan pulang sekolah. Itulah sebagian dari perbedaan sistem pendidikan Indonesia dengan sistem pendidikan Jepang dari Caredoks yang diambil dari berbagai sumber.

Dari sini bisa kita ketahui mengapa negara Jepang bisa maju. Selain pemerintah memiliki andil besar dalam sistem pendidikan, juga dari kesadaran masyarakat dan didikan dari orang tua mereka yang begitu melekat. Untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas tidak hanya bergantung pada sistem pendidikan itu sendiri, tapi setiap sistem dan orang di dalamnya seperti guru dan para pelajar pun harus ikut mendukung untuk mencapai visi dan misi yang sama.

Jadi, Jepang dalam menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas pun tidak semata-mata dengan hasil instan tapi dengan proses yang hampir sama dengan negara maju lain pada umumnya. Karena seperti yang dikatakan sebelumya proses kurikulum di Jepang pun tidak lepas dari kata bongkar pasang, tapi dengan loyalitas para pengajar dan tingkat kedisiplinan pelajar akhirnya dapat menciptakan banyak SDM berkualitas.