Menilik Tren Global dan Peningkatan Minat Akan Pendidikan di Dunia

Pada dasarnya, pendidikan merupakan salah satu pilar penunjang perkembangan suatu bangsa. Tanpa adanya pendidikan, negara tidak akan maju. Itulah mengapa Pendidikan menjadi salah satu fokus penting Pemerintah.

Jika dibandingkan dengan dulu, sistem pendidikan yang ada saat ini jauh lebih baik. Hal ini berkat adanya perkembangan teknologi yang membantu peroses pembelajaran, serta banyaknya tenaga profesional dalam bidang tersebut.

Berbicara tentang pendidikan, di dalam artikel kali ini kami akan mencoba menjelaskan tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan nasional yang sudah ada sejauh ini.

Pertumbuhan dan Perkembangan Sistem Pendidikan Nasional

Salah satu fenomena paling penting pada abad ke-20 ini adalah ekspansi dramatis dan perluasan sistem pendidikan umum, yaitu jumlah sekolah yang sudah bertambah serta niat anak yang ingin belajar, setelah pemerintah mendanai beberapa kota untuk membangun sekolah.

Demikian pula dengan mata pelajaran yang diajarkan di sekolah, yang telah diperluas mulai dari dasar-dasar matematika, bahasa, ilmu pengetahuan dan seni. Berbagai cara telah dilakukan untuk meningkatkan jumlah anak yang bersekolah, dimana salah satunya adalah dengan bantuan pendanaan dari Pemerintah, seperti yang telah disebutkan tadi.

Ilmuwan sosial cenderung meng-kategorikan alasan ini sebagai peningkatan pendaftaran, produk atau konsensus dalam proses perubahan sosial. Dalam banyak kasus, perspektif ini berakar pada teori-teori ilmu sosial yang dirumuskan pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.

Pendidikan dan Kohesi Sosial

Sebagai salah satu pencetus sosiologi moderen pada masanya, Prancis Emile Durkheim menjelaskan bahwa fenomena sosial berasal dari perspektif konsensus.

Menurutnya, pencapaian kohesi sosial yang dicontohkan dalam masyarakat nasional berskala besar di Eropa saat mereka sedang mengalami industrialisasi, urbanisasi dan badan-badan yang mengatur sekularisasi membutuhkan lembaga universal yang mampu mentransmisikan nilai-nilai inti kepada rakyat itu sendiri.

Nilai-nilai ini termasuk sejarah umum yang berkontribusi pada kesinambungan budaya, aturan sosial yang menanamkan disiplin moral dan rasa tanggung jawab untuk semua anggota masyarakat, serta keterampilan kerja yang akan memenuhi kebutuhan masyarakat yang kompleks dan dinamis.

Durkheim mengakui bahwa tutor dan guru merupakan agen masyarakat moral yang lebih besar, yang ​menjalankan fungsi-fungsi yang diperlukan. Seperti yang dia amati dalam The Rules of Sociological Method (1895), “Pendidikan ditetapkan secara tepat dengan tujuan menciptakan makhluk sosial.”

Pemikiran Durkheim, yang diungkapkan pada saat pergantian abad ke-20, tercermin dalam kebijakan negara-negara berdaulat pada periode pasca Perang Dunia II.

Setelah mencapai proses kemandirian, pemerintah di seluruh Afrika dan Asia dengan cepat membentuk sistem instruksi publik, yang berusaha untuk membantu mencapai rasa identitas nasional dalam masyarakat, yang secara historis dibagi oleh perbedaan suku, etnis, bahasa, agama dan geografis.

Pendidikan dan Konflik Sosial

Seorang ahli teori politik asal Jerman yaitu Karl Marx yang paham akan revolusi, memandang sekolah publik sebagai bentuk kontrol ideologis yang dipaksakan oleh kelompok-kelompok yang lebih dominan.

Perspektif seperti ini jika dilihat dari segi pendidikan bukan untuk membangun kohesi sosial, melainkan mereproduksi pembagian kerja atau memungkinkan berbagai kelompok untuk menguasai organisasi dan untuk mempengaruhi distribusi sumber daya yang berharga.

Sosiolog dari Jerman, Max Weber, menganggap kredensial (proses evolusi) pendidikan sebagai salah satu sumber daya semacam itu berfungsi sebagai bentuk “modal budaya”, yang secara umum dapat mempertahankan status “Quo” yang hanya sementara memberikan mobilitas sosial untuk memilih anggota masyarakat.

Pendidikan dan Pertumbuhan Pribadi

Filosofi Amerika Serikat John Dewey percaya bahwa pendidikan itu seharusnya memiliki arti dalam perkembangan anak. Berdasarkan pengamatan yang ia lakukan di Universitas Sekolah Labolatorium, Chicago, Amerika Serikat, sekolah dasar yang ia dirikan pada tahun 1896 mempelajari tentang pengembangan teori-teori pendidikan revolusioner, yang memicu gerakan pendidikan progresif di Amerika Serikat.

Seperti yang dikemukakannya dalam The School and Society (1899) dan The Child and the Curriculum (1902), pendidikan harus dikaitkan dengan pengalaman bukan pemikiran abstrak dan harus dibangun di atas kepentingan dan kebutuhan perkembangan anak.

Dia berpendapat bahwa kurikulum seharusnya hanya berpusat pada siswa, bukan subjek dan lebih menekankan pengajaran pemikiran kritis atas penghafalan.

Kemudian, dalam “Pengalaman dan Pendidikan” (1938), ia mengkritik murid-muridnya yang menangkap teorinya terlalu jauh dengan mengabaikan materi pelajaran yang sudah ada, yang mendukung pelatihan tentang kejuruan atau hanya kegiatan bagi siswa mereka.

“Jika diterapkan dengan hati-hati, pendidikan progresif bisa membentuk pengalaman bagi kalangan kaum muda, sehingga mereproduksi kebiasaan saat ini, kebiasaan yang lebih baik akan terbentuk dan dengan demikian masyarakat di masa mendatang menjadi perbaikan dari diri mereka sendiri,” Ujarnya.

Pedagogi (ilmu atau seni dalam menjadi seorang guru) serentak muncul di Institusi Eropa, seperti Ovide Decroly’s École de l’Ermitage (Sekolah Hermitage), yang mengharapkan siswa mereka bisa menggunakan ruang kelas sebagai bengkel dan Maria Montessori’s Casa dei Bambini (Rumah Anak), yang menggabungkan metode pembelajaran pengalaman dan sentuhan melalui siswa penggunaan “bahan untuk mengajar.”

Pendidikan dan Masyarakat Sipil

Menjelang akhir abad ke-20, teori-teori komprehensif seperti yang diwakili oleh konsensus dan konflik, semakin dilihat oleh dunia sebagai penyederhanaan sebuah proses-proses sosial dan di banyak tempat memberi jalan bagi interpretasi yang lebih khusus.

Salah satu perspektif tersebut memandang ekspansi dan ekstensi pendidikan kurang berfungsi untuk kepentingan nasional dan lebih sebagai produk sampingan dari perubahan agama, ekonomi, politik dan budaya yang telah terjadi di sebagian besar Eropa.

Menurut beberapa pelajar seperti John Meyer dan Michael Hannan, dalam sistem pendidikan formal tidak hanya mewakili sarana yang telah dimoderenkan oleh sebuah negara dan makmur secara ekonomi, tetapi juga merupakan rute paling pasti untuk meningkatkan bakat individu.

Sebagai syarat untuk semua anak dan pemuda antara usia tertentu dan sebagai lembaga yang diatur oleh negara, sekolah juga menjadi agen utama untuk menciptakan warga negara dengan tanggung jawab dan hak yang setara.

Nilai-nilai ini muncul dalam sistem pendidikan di seluruh dunia, terutama pada akhir abad ke-20, ketika para profesional pendidikan mempromosikannya di negara-negara maju dan negara yang kurang berkembang.

Dengan demikian, sekolah secara efektif membawa moderenitas ke banyak bagian dunia, dimana ia bertemu dengan berbagai tingkat resistensi dan penerimaan.

Guru, organisasi non-pemerintah (LSM) dan lembaga pemerintah berkontribusi dalam hal ini, misalnya untuk standardisasi dalam bentuk dan gaya kelas, jenis kurikulum, serta tujuan untuk pendaftaran sekolah.

Pada pertengahan abad ke-20, sekolah-sekolah di sebagian besar negara industri datang untuk menunjukkan karakteristik yang serupa yaitu sekolah dapat diidentifikasi sebagai sekolah. Selanjutnya, ciri-ciri ini menjadi menonjol di sebagian besar sekolah di seluruh dunia.

Pendidikan dan Pengembangan Ekonomi

Satu penjelasan untuk perubahan yang dibuktikan dalam pandangan “institusionalis” tentang pendidikan ini dapat ditemukan dalam teori modal manusia yang dipopulerkan oleh ekonom asal Amerika, Theodore Schultz dalam “Investasi Human Capital,” mengenai pidato kepresidenannya kepada American Economic Association pada tahun 1960.

Dalam teori tersebut dikatakan, bahwa pendidikan bukanlah bentuk konsumsi yang mewakili pengeluaran yang mahal untuk pemerintah, tetapi berfungsi sebagai investasi yang meningkatkan nilai ekonomi individu, seperti modal usaha misalnya.

Dengan demikian, hal ini akan meningkatkan produktivitas serta daya saing ekonomi suatu negara secara keseluruhan. Dengan kata lain, pemerintah mendukung pendidikan karena pada akhirnya memperkuat negara mereka.

Tren Pendaftaran Global Pada Abad ke-20

Masing-masing teori yang telah dikemukakan di atas secara menyeluruh menjelaskan peningkatan yang meluas dalam pendaftaran, seperti yang dilaporkan oleh UNESCO (Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan dan Kebudayaan PBB), di semua tingkat pendidikan selama pertengahan abad ke-20.

Secara garis besar, pendaftaran meningkat secara substansial untuk anak-anak usia muda, sementara itu tingkat buta huruf pada orang dewasa juga menurun secara signifikan.

Pada paruh kedua abad ke-20, proporsi anak-anak di seluruh dunia yang terdaftar di semua tingkatan, yang dimulai dari primer sampai tersier meningkat, yang tadinya kurang dari setengah menjadi sekitar dua pertiga dari kelompok usia yang relevan.

Banyak dari pertumbuhan pendaftaran ini adalah produk dari perubahan politik. Sebagian besar negara dalam fase pascakolonial memperluas sistem pendidikan mereka, karena itu merupakan sesuatu yang dapat dilakukan pemerintah dengan biaya yang wajar untuk mendapatkan pengaruh yang signifikan.

Dengan dibukanya sekolah-sekolah bagi banyak orang yang pernah ditolak pendidikan di bawah sistem semifeudal, kolonial, atau totaliter, tidak jarang menemukan sejumlah besar siswa yang lebih tua yang ikut mendaftar. Kelas-kelas pertama di sekolah dasar mungkin memiliki rentang usia sekitar 6 hingga 11 tahun.

“Secara keseluruhan, pendaftaran sekolah dasar lebih dari tiga kali lipat pada paruh terakhir abad ke-20. Jumlah ini sedikit lebih banyak dari yang sebelumnya, yaitu dari 200 juta menjadi sekitar 670 juta. Pendidikan menengah meningkat lebih dari sembilan kali lipat, dari 40 juta menjadi hampir 400 juta dan pendidikan tinggi meningkat lebih dari 12 kali lipat, sekitar 7 juta menjadi hampir 90 juta.”

Tingkat pendaftaran yang lebih tinggi biasanya berkelanjutan, sebagian karena “credentialing”, dimana pencapaian derajat atau sertifikat prestasi yang telah menjadi kebutuhan sosial.

Pendaftaran Sekolah Tingkat Dasar

Tingkat pendaftaran sekolah dasar telah mencapai  95 hingga 100 persen pada awal abad ke-21 di beberapa negara, seperti Amerika Latin, Asia Timur dan Selatan. Sementara di negara Afrika, tingkat pendaftaran disana telah mencapai rata-rata sekitar 80 persen.

Beberapa negara berkembang di dunia, paling sedikit mengambil langkah dramatis menuju pendidikan dasar universal dalam beberapa dekade terakhir pada abad ke-20.

Hingga akhir tahun 1970-an, kurang dari separuh penduduk usia sekolah yang bersangkutan menghadiri sekolah dasar di negara-negara tersebut, tetapi pada tahun 1997 pendaftaran sekolah dasar di negara-negara yang paling berkembang telah berkembang hingga menjadi lebih dari 70 persen anak-anak usia sekolah.

“Sekitar tahun 1999 sampai 2005, jumlah keseluruhan anak yang memasuki pendidikan dasar di seluruh dunia meningkat drastis sebesar 4 persen, dari 130 juta menjadi 135 juta. Jumlah total pendaftaran di seluruh dunia untuk pendidikan dasar meningkat 6 persen, menjadi 688 juta”.

Keuntungan terbesar untuk siswa yang masuk pendaftaran sekolah dasar ini terjadi di Afrika sub-Sahara (negara yang dianggap bagian Afrika Utara), dengan peningkatan sebesar 40 persen. Beberapa negara bagaimanapun, terus tertinggal di belakang tren ini.

Beberapa tingkat pendaftaran sekolah dasar terendah di dunia terjadi di beberapa negara, seperti Nigeria dan Djibouti (keduanya kurang dari 40 persen).

Menurut Laporan Pengawasan Global UNESCO 2008, pendidikan dasar jika dibandingkan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi, adalah yang paling murah untuk dipertahankan dan yang paling mudah untuk dikembangkan.

“Pendidikan berlaku untuk semua,” namun negara Afrika dan Arab sub-Sahara tidak mungkin mencapai pendidikan dasar universal pada tahun 2015. Tantangan lain yang signifikan adalah memberikan peluang pendidikan berkelanjutan bagi mereka yang menyelesaikan sekolah dasar.

Pendaftaran Sekolah Tingkat Menengah

Pada paruh kedua abad ke-20, pendaftaran sekolah menengah di seluruh dunia berkembang kurang dari seperlima menjadi hampir dua pertiga dari kelompok usia yang relevan. Antara tahun 1999 dan 2005, pendaftaran di pendidikan menengah di seluruh dunia meningkat 17 persen menjadi 512 juta dari sebelumnya, yaitu 73 juta.

Di Asia Timur, Timur Tengah, dan Amerika Latin, tingkat pendaftaran pendidikan menengah berkisar sekitar 60 persen hingga 70 persen pada awal abad ke-21. Asia Selatan dan Afrika memiliki tingkat pendaftaran terendah, masing-masing sekitar satu setengah dan sepertiga dari kelompok usia.

Antara tahun 1999 dan 2005, tingkat pertumbuhan tercepat dalam pendidikan menengah terjadi di Afrika sub-Sahara, Asia Selatan dan Barat, serta di negara-negara Arab, yang masing-masing berada pada persentase : 55 persen, 27 persen dan 21 persen.

Nomor pendaftaran sangat bergantung pada sumber daya ekonomi suatu negara. Misalnya, banyak pemuda di kelompok usia dini tidak dapat bersekolah karena mereka diperlukan untuk menambah penghasilan keluarga.

Ada sebuah kecenderungan di seluruh dunia mengenai pendidikan menengah yang lebih komprehensif pada pertengahan abad ke-20. Pendaftaran kejenjang yang lebih tinggi, dimaksudkan untuk memungkinkan siswa untuk melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi, bukannya mereka ke sekolah dengan program yang asal-asalan.

Namun, tidak semua lulusan perguruan tinggi dan universitas menemukan pekerjaan yang sepadan dengan pencapaian pendidikan mereka. Semakin banyak lulusan tingkat tersier, setengah dari mereka kebanyakan kesulitan untuk mendapatkan pekerjaan, yang menyebabkan minat baru dalam pendidikan kejuruan.

Baik di tingkat pendidikan dasar dan menengah, tren lain di seluruh dunia adalah masuknya lebih banyak mata pelajaran dalam matematika dan sains, disertai dengan penekanan yang semakin besar pada kursus yang terkait dengan komputer, yang dimaksudkan untuk mempersiapkan siswa dari segala usia untuk berpartisipasi dalam ekonomi moderen dan kebutuhan tenaga kerja yang dinamis.

Pendaftaran Sekolah Tingkat Tersier

Pendidikan tinggi, yang dulu memiliki tujuan utama mendidik para pemimpin agama, sekarang bertindak sebagai pintu gerbang ke sektor moderen ekonomi nasional dan sering ke status sosial yang lebih tinggi. Pendidikan tinggi juga merupakan tempat penyempitan pendaftaran terbesar terjadi.

Di seluruh dunia, kurang dari seperlima dari mereka yang berusia 18-24 tahun terlibat dalam beberapa bentuk pendidikan tinggi pada pergantian abad ke-21, dengan kurang dari 5 persen dari mereka di negara-negara yang tidak maju yang terdaftar.

Sebaliknya, di negara-negara industri maju, pendaftaran pendidikan tinggi pada tahun 2005 mencapai sekitar setengah dari kelompok usia, dengan tingkat lebih dari dua pertiga di Amerika Utara dan Eropa Barat serta hampir tiga per lima di Oceania.

Antara tahun 1999 dan 2005, pendaftaran pendidikan tinggi tumbuh sebesar 45 juta siswa menjadi 138 juta, dengan Brasil, Cina, India, Nigeria, Kuba dan Korea Selatan menunjukkan perolehan terbesar.

Di beberapa negara, akses ke pendidikan tinggi telah dianggap sebagai hak atau sebagai alternatif, persyaratan sosial untuk masuk ke pekerjaan paling bergengsi atau jabatan politik tinggi.

Sejak tahun 1990-an, tren internasional dalam pendidikan tingkat tinggi termasuk pertumbuhan yang cepat dari lembaga-lembaga swasta, seperti hubungan lebih dekat antar pasar (seperti sponsor perusahaan penelitian universitas) dan diferensiasi kelembagaan (seperti spesialisasi dalam bidang subjek tertentu atau pekerjaan).

Pilihan “Postsecondary Learning” sangat beragam, mulai dari pendidikan jarak jauh dan kursus jangka pendek, hingga masa tinggal yang diperpanjang serta pekerjaan pascasarjana di lembaga-lembaga kelas dunia.

Beberapa tren ini berasal dari kemajuan dalam komunikasi dan perjalanan internasional. Negara-negara maju tidak hanya menyediakan lebih banyak siswa dengan berbagai pilihan studi yang lebih besar, tetapi juga berinvestasi lebih banyak dalam infrastruktur penelitian dan pengembangan pendidikan tinggi.

Namun, perbedaan regional dalam kapasitas sistem pendidikan tinggi untuk berkontribusi pada penelitian ilmiah dan inovasi teknologi, mungkin merupakan kesenjangan yang lebih besar daripada perbedaan dalam kekayaan materi antara negara-negara terkaya dan termiskin.

Perkembangan Lain Dalam Pendidikan Formal

Di ujung lain dari kontinum (rangkaian) sekolah, akses ke perawatan anak usia dini dan pendidikan prasekolah menjadi semakin penting dalam mempersiapkan anak-anak untuk sukses di sekolah.

Meskipun pendaftaran prasekolah lebih dua kali lipat menjadi sekitar 100 juta antara tahun 1975 dan 2000 di banyak negara, akses tidak selalu dijamin bagi anggota masyarakat termiskin dan paling terpinggirkan dan prasekolah swasta sering menyumbang sebagian besar opsi yang tersedia bagi orang tua.

Bagaimanapun, beberapa negara telah berusaha untuk menyediakan pendidikan pra sekolah universal untuk semua anak, demi keperluan perkembangan anak dan sosialisasi individu menuju identitas nasional. Prancis misalnya, memiliki gagasan kuat tentang identitas nasional dan sekuler yang ditempa dalam Revolusi Prancis.

Perdebatan pada awal abad ke-21 tentang hak mahasiswa negara Prancis untuk mengenakan pakaian atau perhiasan simbolik agama, pada kenyataannya, berakar pada nilai-nilai yang muncul dari periode revolusioner.

Di Italia, penekanan pada awal sekolah adalah hasil dari gerakan sosial pada awal 1960-an. Menurut sosiolog Amerika, William Corsaro dan psikolog Italia Francesca Emiliani, migrasi besar-besaran ke kota-kota dan partisipasi aktif perempuan dalam protes buruh, membawa tuntutan bahwa negara menyediakan layanan sosial dasar​, ​termasuk pendidikan dan perawatan anak yang didanai publik.

Pengalaman kontemporer di belahan lain dunia sangat berbeda. Revolusi politik di Cina, misalnya, mengubah sifat dasar pendidikan.

Meskipun budaya tradisional Tiongkok telah mementingkan pendidikan sebagai sarana untuk meningkatkan nilai dan karir seseorang, pada akhir tahun 1950-an pemerintah Tiongkok tidak dapat lagi menyediakan pekerjaan yang memadai untuk memenuhi harapan mereka yang telah memperoleh pendidikan formal.

Lebih jauh lagi, anti-intelektualisme melekat dalam periode kampanye massa Lompatan Besar ke Depan dan khususnya, Revolusi Kebudayaan mengurangi status dan kualitas pendidikan. Kerusakan yang terjadi pada sumber daya manusia Cina begitu besar, sehingga butuh puluhan tahun untuk memperbaiki kerugian tersebut.

Pergeseran menuju pembangunan ekonomi yang cepat dan pragmatis terjadi pada akhir 1970-an, ketika sistem pendidikan China semakin melatih individu dalam keterampilan teknis, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan sektor ekonomi modern yang maju.

Kecenderungan keseluruhan dalam pendidikan China mencerminkan kombinasi lebih sedikit siswa dan standar skolastik yang lebih tinggi, yang menghasilkan sistem pendidikan hierarkis yang tajam.

Pada pergantian abad ke-21, sedikitnya lebih dari sepertiga dari total penduduk telah menyelesaikan sekolah dasar. Sementara sekitar sepersepuluh dari semua orang Tionghoa telah menyelesaikan pendidikan sekolah menengah, kurang dari 4 persen telah mendapatkan gelar yang lebih tinggi.

Pada akhir abad ke-20, pendaftaran pendidikan tinggi di China telah berkembang pesat. Pemerintah telah mengizinkan pembukaan lembaga pendidikan swasta dan telah mulai mendesentralisasikan keseluruhan tata kelola pendidikan.

Pendidikan tinggi di Cina telah berkembang secara dramatis dari hampir 7 persen siswa di pendidikan tinggi pada tahun 1999 menjadi 22 persen pada tahun 2006.

Pada tahun 2007 hampir 19 juta siswa terdaftar di universitas dan 5 juta lainnya menerima beberapa bentuk pendidikan tinggi, baik di tingkat sarjana atau tingkat asosiasi. Pada tahun yang sama, sekitar 16 persen siswa yang menerima pendidikan tinggi terdaftar di lembaga swasta. Empat puluh delapan persennya adalah perempuan.

Dari penjelasan di atas, anda sudah melihat bahwa semakin ke depan dan seiring berjalannya waktu, perkembangan pendidikan terus mengalami peningkatan di sejumlah negara di dunia. Meskipun ada beberapa negara yang perkembangannya sedikit lebih lambat dari yang lain, tapi setidaknya ada peningkatan yang terjadi.

Peningkatan ini kemungkinan terjadi karena masyarakat (orang tua khususnya) yang mulai menyadari akan pentingnya pendidikan anak-anaknya demi masa depan mereka dikedepannya dan semoga saja peningkatan ini tidak hanya sampai di sini saja, melainkan terus berlangsung menjadi semakin lebih baik dan berkembang lagi, terutama untuk negara kita yang tercinta ini.