Masih Adakah Minat Baca Masyarakat Indonesia?

“Semakin banyak membaca maka akan semakin banyak yang kita tahu”. Kata-kata mutiara ini benar adanya, bahwa sudah pasti membaca buku, artikel-artikel yang bermanfaat jelas menambah pengetahuan kita. Kapankah anda terakhir kali membaca? Kemarin, minggu lalu, bulan lalu atau bahkan tahun lalu? Nah, buat anda yang sudah lama tidak membaca, sebaiknya kamu harus tahu bahwa beberapa penelitian telah membuktikan bahwa membaca berdampak besar bagi kehidupan manusia, di antaranya bagi kesehatan.

Di tengah teknologi yang semakin pesat ini, seharusnya semakin meningkatkan minat baca kita, karena dengan teknologi kita juga diberi kemudahan untuk membaca. Kita tidak hanya harus membaca dari buku atau majalah, tetapi sekarang ini kita bisa membaca dari e-book, artikel-artikel yang bermanfaat dari situs-situs di internet.

Namun, hal ini terbalik. Justru kita lebih sering sibuk di media sosial, melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat, seperti bullying di medsos atau juga menonton video. Lalu, masih ada kah bakat membaca nya dari masyarakat Indonesia terlepas dari canggih nya teknologi jaman sekarang

Apakah Minat Baca Masyarakat Indonesia Masih Ada?

Berdasar pada data yang dikeluarkan oleh Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi), menunjukkan bahwa pangsa pasar buku yang ada di Indonesia saat ini mencapai sekitar Rp 14,1 triliun pertahun.

Sekitar 60 persen pasar buku berasal dari pembelian oleh pemerintah untuk sektor pendidikan. Setiap tahun ada 100.000 judul buku yang dimintakan International Series Book Number (ISBN) di Perpustakaan Nasional, namun hanya 40 sampai 45 persen yang akhirnya benar-benar terbit.

Namun, meski jumlah penduduk Indonesia besar, ternyata hal tersebut tak sejalan dengan peminat pembaca buku. Nyatanya, rata-rata buku hanya dicetak 3.000 eksemplar untuk setiap judulnya.

Menurut data, rata-rata orang Indonesia hanya membeli 2 judul buku setiap tahun. Hal ini jelas menujukkan minimnya minat baca masyarakat Indonesia. Ikapi menyatakan, Indonesia memiliki 1.300 penerbit, namun hanya separuhnya yang aktif. Padahal, penerbit disebut aktif jika minimal ia mampu memproduksi 10 judul buku setiap tahunnya.

Menghadapi semakin redupnya minat membaca masyarakat Indonesia, berbagai kalangan mulai membuat inovasi guna mengembalikan kebiasaan membaca masyarakat Indonesia. Salah satunya seperti apa yang dilakukan oleh Rachmadi Gunawan.

Rakhmadi Gunawan adalah seorang pendiri Sanggar Bocah Jetis di Sleman, Yogyakarta. Dirinya dikenal rajin berkeliling dari kampung ke kampung membawa koleksi buku. Sepeda motor roda tiga yang dipinjamkan seorang donatur, didesainnya secara khusus agar mampu mengangkut 200 judul buku.

Aktivitas berkeliling membawa buku ini sudah dijalaninya hampir tiga tahun. Ini berawal dari keprihatinan karena semakin minimnya kegiatan membaca di kalangan anak-anak. Apalagi, di Indonesia gawai elektronik seperti telepon pintar, seolah kini menjadi bagian tak terpisah bagi mereka. Gunawan rajin mengantar buku karena yakin, minat baca masyarakat masih tinggi, terutama jika ada yang membawakan bahan bacaan untuk mereka.

Imam Risdiyanto, Manajer Redaksi Penerbit Bentang Pustaka seolah meng-iya kan Gunawan, hal ini karena menurutnya buku-buku yang diterbitkannya masih disambut baik masyarakat.

“Memang masih cukup besar pembaca buku, yaitu orang-orang yang merasa tidak cukup membaca melalui gadget. Mereka butuh memegang sebuah buku, mencium bau kertasnya,” kata Imam.

Sejalan dengan ucapan Imam, Hafizh Nurul Faizah, seorang mahasiswa Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini merupakan satu contoh pembaca semacam itu. Dia mengaku, tidak bisa membaca buku di gadget setidaknya karena dua alasan.

“Baca buku cetak itu ada feel-nya, ada kesan kuatnya karena kita pegang buku secara nyata. Selain itu, saya juga kurang suka lama-lama memandangi gadget, tidak nyaman,” kata Faizah.

Berada di tengah perpustakaan dengan rak buku-buku yang penuh, kata Faizah, juga menghadirkan sensasi tersendiri. Karena itulah dia yakin, buku tetap akan digemari. Mengoleksi buku juga menghadirkan kepuasan. Sesuatu yang tidak bisa dirasakan ketika mengumpulkan buku elektronik di dalam sebuah gadget.

Kembali pada perpustakaan keliling milik Gunawan, ia juga memiliki trik jitu untuk meyakinkan pembacanya agar mau kembali membaca buku- buku cetak. “Kita bilang ke pembaca, bahwa bacaan atau informasi yang ada di media sosial itu belum tentu bisa dipertanggungjawabkan. Beda dengan apa yang ada di buku yang sudah dicetak, karena sebelum melalui proses pencetakan, pasti sudah dibaca berulang dan melalui riset,” ujar Gunawan.

Ada sekitar 600 judul buku yang dikoleksi perpustakaan keliling ini dan ia membuka kesempatan pada setiap orang untuk menyumbang buku baru. Dana pengelolaan perpustakaan diambil dari uang pribadi Gunawan.

Untuk mencukupinya, organisasi pemuda setempat memproduksi makanan yang diberi label donat donasi. Separuh keuntungan penjualan donat dipakai menghidupi perpustakaan. Nah, ternyata membaca tak hanya membawa keberuntungan dimana kita mendapatkan ilmu saja namun juga dapat memperpanjang hidup. Bagaimana bisa? Yuk, simak sama-sama

Teratur Membaca Buku Memperpanjang Hidup

Ada banyak cara untuk meningkatkan kesempatan hidup hingga berusia lanjut. Beberapa diantaranya adalah menahan diri untuk tidak merokok dan minum alkohol, mengonsumsi makanan bergizi. Hasil suatu studi terbaru menambah cara memperpanjang usia di atas. Peneliti studi menyimpulkan bahwa orang-orang yang rutin membaca buku menambah beberapa tahun usia hidup mereka.

Studi jangka panjang ini dilakukan pada 3.635 orang. Peneliti menemukan bahwa orang-orang yang membaca dengan teliti, khususnya, selama lebih dari 3,5 jam per minggu, rata-rata hidup dua tahun lebih lama daripada non-pembaca.

Avni Bavishi dari Yale University School of Public Health melakukan studi selama 12 tahun. Ia membagi peserta ke dalam tiga kelompok. Pertama, kelompok yang tidak membaca, kedua kelompok yang membaca 3,5 jam kurang dari seminggu dan yang ketiga kelompok pembaca lebih dari 3,5 jam per minggu.

Perlu dicatat, walaupun semua artikel-artikel majalah yang Anda baca cukup baik, namun, efek ini hanya dapat dikaitkan dengan buku dan tidak dalam bentuk bahan bacaan lain.

“Membaca buku berkontribusi terhadap manfaat kelangsungan hidup yang secara signifikan lebih besar daripada yang diamati membaca surat kabar atau majalah,” ujar Bavishi.

Membaca buku cenderung melibatkan dua proses kognitif yang dapat menciptakan keunggulan bertahan hidup. Pertama, memicu ‘membaca lebih dalam’ suatu proses mendalam yang mendorong pembaca untuk membentuk koneksi ke bagian lain dari bahan bacaan dan dunia di sekitar mereka. Kedua, buku dapat menimbulkan empati, persepsi sosial, dan kecerdasan emosional, suatu proses kognitif yang menyebabkan kelangsungan hidup yang lebih lama.

Benarkah Gemar Baca Buku Pengaruhi Perilaku Sosial?

Sebuah studi yang diproduksi oleh Kingston University di London, Inggris, menyimpulkan bahwa mereka yang gemar membaca buku ditemukan memiliki perilaku dan hati yang baik. Studi ini melibatkan 123 partisipan yang diuji berdasarkan kemampuan interpersonal termasuk toleransi pada perasaan orang lain dan beradaptasi untuk menolong sesamanya.

Hasilnya, mereka yang hobi membaca buku mempunyai empati tinggi dan beretika lebih baik ketimbang mereka yang gemar menonton televisi. Studi bahkan menguraikan bahwa orang-orang yang senang menghabiskan waktu menonton televisi kurang bersahabat dan kurang mau memahami lingkungan sekitarnya.

Namun, kesimpulan ini tidak berlaku pada Anda semua yang hobi membaca buku. Sebab, pilihan buku yang Anda baca juga memainkan peran dalam membentuk karakter emosional pembacanya. Studi merangkum bahwa penggemar buku fiksi memperlihatkan perilaku sosial yang lebih positif dan penggemar buku novel romantis memiliki empati yang tinggi.

Manfaat Membaca Buku Dilihat Dari Aspek Psikologis

Kalau orang-orang ditanya apa manfaat membaca buku, pasti mayoritas menjawab kalau buku dapat menambah wawasan dan ilmu pengetahuan. Itu jawaban yang benar, tetapi sebenarnya membaca buku itu memiliki banyak manfaat lain terutama dari aspek psikologis diantaranya seperti dibawah ini:

  • Mengurangi Stress

Ada beberapa orang yang ingin melarikan diri dari tekanan stress dengan berlibur atau bahkan dengan tidur. Tetapi ada juga yang melakukannya dengan membaca buku-buku yang disukainya. Karena dengan membaca pikiran kita akan berpindah atau fokus ke bacaan tersebut dan itu akan mempengaruhi otak. Sehingga stress yang kita alami bisa berkurang bahkan kita bisa kembali rileks.

Disarankan untuk membaca buku-buku dengan topik yang disukainya, atau buku-buku novel yang membutuhkan imajinasi.

  • Merangsang memori otak

Saya tidak tahu bagaimana otak bekerja, tetapi yang saya tahu di dalam otak kita itu punya banyak sekali perintah. Tangan kita bergerak, kita berbicara, dll itu butuh perintah dari otak. Karena banyak perintah, maka otak juga perlu dilatih terutama untuk kemampuan mengingat.

Dengan membaca, maka akan dapat merangsang memori otak untuk memiliki daya ingat yang baik. Membaca ini merupakan salah satu cara terbaik untuk membuat otak semakin sehat.

  • Membuat suasana hati lebih tenang

Dengan membaca buku, pikiran kita akan menjadi lebih tenang. Karena fokus kita hanya di bacaan. Terbukti dengan membaca membuat suasana hati menjadi lebih tenang.

  • Meningkatkan konsentrasi

Kalau kamu membaca buku dengan rutin, maka akan dapat membantu dalam meningkatkan konsentrasi. Coba saja untuk membaca buku sekurang-kurangnya 15 – 20 menit per hari. Lama-lama kamu akan merasakan kalau kamu bisa lebih fokus dan konsentrasi di setiap pekerjaan kamu.

  • Mampu berpikir secara open minded

Dengan membaca buku, dapat mempengaruhi psikologis kita untuk memiliki pemikiran yang terbuka. Kita akan mudah menerima informasi-informasi dari luar yang berbeda dengan prinsip kita. Namun, itu tidak membuat kita menjadi tidak nyaman. Karena membaca buku secara tidak langsung kita akan mendapatkan ilmu dan wawasan yang berbeda-beda. Itulah yang membuat kita menjadi punya pemikiran yang terbuka.

Bantu dan dukung lah anak-anak bangsa Indonesia untuk terus membaca, membaca dan membaca. Karena alam dan apapun yang kita punya hanya mampu memperlihatkan tempat yang terbatas. Tapi buku memberikan dunia yang tak terbatas.