Manakah yang Lebih Penting, Nilai atau Minat Anak?

Tidak jarang didapati orang tua marah dan kecewa ketika melihat nilai rapor anak jelek. Bahkan, mereka langsung memberi hukuman dengan melarang anak untuk bermain lagi, menyuruhnya untuk serius belajar, hingga mengikutsertakannya dalam bimbingan belajar tambahan atau les setelah jam pulang sekolah, hanya demi nilainya naik. Tahukah anda bahwa nilai buruk bukan berarti anak anda tidak pintar? Mengapa bisa begitu? Yuk, simak artikel ini hingga selesai.

Nilai Jelek Bukan Berarti Anak Tak Pintar

Cerdas tidaknya seorang anak tak bisa dilihat hanya dari nilai akademisnya saja di sekolah. Ini karena setiap anak memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Maka tidak ada anak yang disebut bodoh hanya karena nilai di sekolahnya jelek.Seorang ahli kecerdasan multipel (Multiple Intelligences) dari Universitas Harvard Amerika Serikat, Thomas Amstrong mengungkapkan anak memiliki kepintaran yang berbeda-beda.

“Ada anak yang nilai di sekolahnya bagus, pintar menjawab pertanyaan di sekolah dengan benar, punya IQ 150, tapi kepintaran bukan hanya soal itu,” kata Thomas dalam talkshow bertema Beda Anak Beda Pintar.

Thomas menjelaskan, dalam teori multiple intelligences terdapat 8 jenis kepintaran anak. Delapan jenis itu adalah kecerdasan linguistik (word smart), kecerdasan logika-matematika (number smart), kecerdasan visual-spasial (picture smart), kecerdasan gerak tubuh (body smart), kecerdasan bermusik (music smart), kecerdasan interpersonal (people smart), kecerdasan intrapersonal (self smart), dan kecerasan naturalis (nature smart).

Teori multiple intelligences ini diperkenalkan oleh seorang profesor dari Havard University bernama Dr.Howard Garner untuk mengukur potensi kecerdasan seseorang secara lebih luas.

“Semua anak bisa memiliki kepintaran yang berbeda-beda. Ada yang menonjol di suatu bidang tertentu, ada yang tidak. Orangtua harus mengetahui delapan jenis kepintaran ini,” terang Thomas.

Menurut dia, orangtua bisa mengetahui delapan jenis kepintaran anak ini dengan mengamati tingkah laku mereka. Misalnya, anak suka memukul-mukul benda seperti bermain drum, maka ia mungkin memiliki minat di musik. Anak yang suka membuat sesuatu dengan tangan mereka, menyentuh, mengamati benda, cenderung memiliki kepintaran body smart. Jika kecerdasan anak sudah diketahui, berikanlah stimulus untuk mengembangkan kepintaran anak tersebut. Misalnya, untuk anak yang memiliki body smart, ajak si kecil bermain menyusun balok, melakukan kegiatan fisik seperti olahraga. “Orangtua harus meluangkan banyak waktu untuk memperhatikan anak-anak mereka,” katanya.

Lalu, apakah anda orang tua yang selalu mementingkan nilai daripada melihat hal apa yang menjadi penyebab buruknya nilai tersebut. Bisa jadi, ada suatu kemampuan tersembunyi di balik nilai jelek tersebut, bukan? Lantas, mana sih sebenarnya yang lebih penting? Nilai akademik atau minat anak?

Seberapa Penting Nilai Akademik?

Sejak kecil, kita selalu dididik bahkan ditekankan untuk mengedepankan nilai akademik. Doktrin jika nilai bagus dan sempurna, itu berarti kita adalah anak yang pintar selalu melekat dalam pikiran. Tidak hanya dari orang tua, tapi juga para guru dan orang-orang di lingkungan sekitar. Sayang, doktrin itu tidak sepenuhnya benar.

Nilai akademik memang penting. Terlebih dengan kondisi pendidikan di Indonesia yang lebih melihat pada angka rapor dibanding kemampuan anak. Akan tetapi, memaksa anak untuk selalu mendapat nilai sempurna hingga menekan dengan mengikutsertakan banyak les, itu juga tidak baik.

Bukannya mendapat hasil memuaskan, yang ada anak justru tertekan dan malas-malasan dalam belajar. Akhirnya, hasil rapor tidak sesuai harapan. Bahkan, akibat terburuk dari tekanan itu adalah anak menjadi nakal dan cenderung melawan keinginan orang tua.

Jika sudah begitu, banyak orang tua akan menyalahkan institusi pendidikan karena dianggap salah mendidik. Padahal, masalah utama ada pada diri mereka. Lantas, apa yang harus dilakukan?

Jangan Bebani Anak dengan Prestasi

Anak sudah cukup stres dengan mata pelajaran yang ada di sekolah. Jangan bebani lagi dengan tuntutan prestasi bagus. Itu hanya akan menyulitkan dan menekan mereka. Sebenarnya, anak tahu jika mereka harus berprestasi dan berusaha lebih keras untuk bisa menggapai impian dan cita-citanya. Karena itulah, cukup dampingi dan dukung setiap langkah yang mereka ambil. Ingatkan jika mereka melenceng dari tujuan dan rencana yang sudah disusun. Jangan melarang, apalagi memberi beban tambahan.

Kenali Karakter dan Potensi Anak

Mulailah untuk memahami anak. Salah satu caranya dengan mengajak mereka bicara secara pelan-pelan ketika berada di rumah. Manfaatkan quality time sebelum tidur untuk berbincang. Karena pada saat itu, anak biasanya lebih relaks dan terbuka untuk bercerita. Ketika anak sudah mulai membuka suara untuk menceritakan kondisinya, jangan disela. Itu hanya akan merusak komunikasi.

Dalam perbincangan tersebut, Anda dapat menanyakan apa saja. Seperti kondisi di sekolah, cara mereka bersosialisasi dengan teman, bagaimana guru ketika memberi penjelasan, atau pelajaran apa saja yang kurang bisa mereka mengerti. Dari pertanyaan yang Anda ajukan dan jawabannya, Anda bisa tahu potensi apa yang dimiliki anak. Bisa jadi minat anak tidak pada akademik tapi dalam hal lain. Itulah, yang nantinya harus digali lagi untuk bisa dimaksimalkan agar mendapat hasil yang lebih baik.

Berikan Dukungan Terhadap Potensi Anak

Ketika potensi sudah diketahui, maka langkah selanjutnya adalah memberikan dukungan serta memfasilitasi anak untuk mengembangkan potensi tersebut. Salah satu bentuk dukungannya adalah mengikutsertakan anak pada kelas khusus atau esktrakurikuler sesuai minat mereka. Melakukan kegiatan sesuai keinginan akan memberikan hasil yang lebih baik daripada mengikuti kelas dalam keadaan terpaksa tanpa ada keinginan sedikit pun. Bukannya prestasi naik, yang ada nilai semakin anjlok jika terus dipaksakan.

Dukungan juga tidak hanya dalam bentuk material dengan membiayai kelas atau les yang anak inginkan. Akan tetapi bisa dengan membebaskan mereka memilih. Jangan memaksakan kehendak karena itu hanya akan menyakiti dan membuat mereka semakin tertekan.

Namun, jika anak anda memang malas belajar dan kurang konsen dengan pembelajaran dari sekolah cobalah dengan strategi berikut ini.

Cara Mengatasi Anak Yang Malas Belajar

  • Tujuan Tertulis

Coba buat coretan-coretan kecil untuk menuliskan apa yang sebenarnya Anda inginkan. Tuliskan tujuan yang ingin Anda capai melalui belajar. Coba tulis dua atau tiga tujuan yang ingin Anda capai lewat proses belajar, kemudian tempelkan kertas tersebut di tembok kamar atau di tempat yang mudah Anda lihat. Dengan membaca terus dan berkali-kali, tujuan tersebut akan tertanam pada pikiran Anda dan Anda menjadi bersemangat oleh hal tersebut.

  • Strategi Belajar

Coba lihat buku catatan apakah semua tulisan tersebut berasal dari bolpoin warna hitam? Jika iya, cobalah mengganti warna bolpoin Anda ketika menulis judul atau bab baru dengan warna-warna yang lebih cerah. Hal itu akan membuat Anda lebih semangat. Coba juga menata ulang kembali tempat belajar Anda, mengubah jam belajar Anda, dan mengubah kebiasaan Anda sebelum belajar seperti membasuh wajah dan berdoa terlebih dahulu. Ubah strategi Anda dalam belajar dan hindari melakukan hal yang monoton dengan jangka waktu yang lama agar Anda terbebas dari rasa malas.

  • Posisi Belajar

Cobalah untuk duduk bersandar ketika belajar jangan memaksa selalu duduk dengan tubuh tegap dan membaca buku dengan jarak yang aman. Setiap orang memiliki posisi kenyamanan yang berbeda-beda ketika sedang belajar. Dengan posisi yang nyaman, Anda akan lebih mudah menyerap informasi dan terjauh dari rasa malas karena Anda nyaman dengan apa yang Anda lakukan.

Malas akan membuat Anda menjadi tidak produktif dalam kehidupan jika terus menerus dibiarkan bersarang pada diri Anda. Cobalah mencari hal-hal yang belum pernah Anda lakukan ketika menjalani proses belajar agar Anda dapat menyegarkan pikiran dan tubuh Anda sendiri. Dengan pikiran dan tubuh yang segar, akan membuat Anda jauh dari malas.

Nah, itulah pembahasan mengenai minat anak dalam belajar. Semoga anak-anak Indonesia semakin besar dan maju niat untuk belajarnya. Dan ingatlah selalu jika setiap anak itu spesial. Jadi, perlakukan mereka dengan cara spesial pula, sesuai minat anak anda. Selamat mencoba tips di atas bagi anda yang memiliki anak yang kurang minat belajar.