Homeschooling, Sistem Pendidikan Alternatif Yang Menjadi Pilihan Banyak Orangtua

Tak bisa dipungkiri, pendidikan emang sangat penting di dunia, kenapa? Ya, karena dunia butuh orang-orang yang berpendidikan agar dapat membangun Negara yang maju. Pendidikan merupakan salah satu upaya kita untuk mengatasi kebodohan dan kemiskinan di Negara kita. Pendidikan itu semacam gerbang untuk kita menuju ke kehidupan yang lebih baik lagi, dengan memperjuangkan hal-hal terkecil hingga hal-hal besar yang akan dilewati setiap manusia.

Memberikan pendidikan yang mumpuni pada anak adalah kewajiban orangtua. Selain sekolah formal, ada cara lain, yaitu pendidikan Homeschooling. Apa itu Homeschooling? Bagaimana memulai dan menjalankannya? Yuk langsung aja simak ulasannya di bawah ini…

Homeschooling adalah pendidikan berbasis keluarga yang masuk dalam jalur pendidikan informal dan diatur keberadaannya dalam UU no 20/2003. Dalam hal ini, orangtua yang mengambil alih proses pendidikan anak, karena pada dasarnya orangtua lah yang paling mengerti sifat dan karakter anak-anaknya.

Homeschooling dikenal juga dengan sebutan home-education atau sekolah rumah. Pada intinya homeschooling adalah sistem pendidikan atau pembelajaran alternatif selain sekolah.

Menurut buku Sekolah Rumah sebagai Satuan Pendidikan Kesetaraan, yang dikeluarkan oleh Dinas Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional, homeschooling adalah proses layanan pendidikan yang secara sadar, teratur dan terarah dilakukan oleh orangtua/keluarga di rumah atau tempat-tempat lain dimana proses belajar mengajar dapat berlangsung dalam suasana yang kondusif dengan tujuan agar setiap potensi anak yang unik dapat berkembang secara maksimal.

Apabila sebuah keluarga telah memilih homeschooling bagi pendidikan anak-anak mereka, maka orang tua bertanggung jawab secara penuh terhadap proses pendidikan tersebut. Otomatis semua sistem pengajaran dikelola oleh orangtua tersebut secara mandiri, mulai dari akan mengambil kurikulum yang mana (dalam atau luar negeri), buku–buku apa saja yang menjadi literatur sampai pada aturan jam belajar di rumah.

Dan saat ini, homeschooling sangat populer di Amerika Serikat, dengan persentase anak-anak 5-7 tahun yang diberikan homeschooling meningkat dari 1.7% pada 1999 menjadi 2.9% pada 2007.

Apa Tujuan Homeschooling?

Tujuan homeschooling adalah menyiapkan anak sebagai pembelajar mandiri, dengan ciri-ciri:

  • Memiliki motif internal untuk belajar
  • Berorientasi pada tujuan yang ingin dia raih
  • Terampil mencari bahan ajar
  • Pandai mengelola diri (self management)

Alasan Orangtua Memilih Homeschooling

Inilah berbagai kondisi atau alasan yang melatarbelakangi beberapa orangtua memilih homeshcooling:

  • Agar hubungan antara orang tua dengan anak lebih dekat
  • Karena orang tua tidak merasa puas dengan kualitas pendidikan formal
  • Pergaulan sekolah yang tidak terlalu baik bagi keamanan dan perkembangan anak seperti tawuran dan mengkonsumsi obat terlarang
  • Kurikulum sekolah yang terlalu tinggi tidak sesuai dengan kemampuan dan usia anak
  • Tugas sekolah yang terlalu banyak menjadi beban bagi anak
  • Anak pernah mengalami kekerasan di sekolah dari guru atau teman sebaya
  • Penyeragaman kemampuan dan keterampilan anak di sekolah dapat mematikan bakat dan minat anak
  • Anak berasal dari keluarga kurang mampu sementara biaya pendidikan formal semakin tinggi
  • Pengangguran atau anak putus sekolah
  • Orang tua banyak berpindah tempat tinggal
  • Anak terlalu aktif dan sekolah terpaksa mengeluarkan anak karena guru mengalami kesulitan dalam mengontrol anak di kelas
  • Anak memiliki kegiatan luar sekolah yang luar biasa sehingga tidak bisa mengikuti jadwal belajar di sekolah umum
  • Anak tidak suka sekolah formal dan lebih menyukai gaya belajar informal
  • Anak memiliki kebutuhan khusus dan sistem di sekolah umum tidak bisa memberikan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan khusus anak

Macam-macam Homeschooling

Ada beberapa klasifikasi model homeschooling, antara lain:

  1. Homeschooling Tunggal: Model ini dilaksanakna dalam satu keluarga dan tidak bergabung dengan keluarga lainnya yang melakukan homeschooling terhadap anak-anaknya.
  2. Homeschooling Majemuk: Model ini dilaksanakan oleh beberapa keluarga dengan kegiatan-kegiatan tertentu juga kegiatan pokok dan kegiatannya tetap dilaksanakan di rumah masing-masing.
  3. Komunitas Homeschooling: Komunitas homeschooling adalah gabungan dari komunitas majemuk dan mereka menyusun dan menentukan silabus, bahan ajar, kegiatan pokok, dan hal-hal lainnya.

Bagaimana Anak Homeschooling Mendapatkan Ijazah?

Anak homeschooling tetap bisa mendapatkan ijazah untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, termasuk perguruan tinggi negeri ataupun swasta. Untuk SD bisa diikutkan ujian paket A, paket B untuk setara SMP, dan paket C untuk setara SMA.

Beberapa selebriti tanah air yang menjalani metode homeschooling juga menjadi peserta Ujian Paket untuk bisa mendapatkan ijazah di antaranya ada Stuart Collin, Aurel dan juga Mikha Tambayong.

Homeschooling Sebagai Perspektif Pendidikan yang Berbeda

Pendidikan sebagai pengantar masa depan yang lebih baik, membuat kita melihat sekolah sebagai satu-satunya jalan dan model pendidikan yang akan mengantar anak-anak kita menuju masa depan. Pandangan ini kemudian menjadikan bahwa apa pun yang ada di sekolah merupakan hal yang baik.

Proses penjenjangan, ijazah, cara berpakaian, rapor, ranking, cara belajar hingga kebijakan sekolah adalah hal yang paling benar dan terbaik bagi masa depan yang gemilang. Sementara fakta yang terjadi di dunia nyata justru sebaliknya.

Setiap anak adalah berbeda satu dengan yang lain. Karena itu pula mereka juga membutuhkan metode pendidikan yang berbeda. Tidak semua anak cocok untuk duduk di bangku sekolah dengan manis. Ada sebagian anak yang setiap detik mereka seolah selalu ingin bergerak, menyentuh, merasakan dan mencoba. Mereka belajar hanya dengan mendengar, atau mencoba; sehingga duduk manis di kelas seolah siksaan untuk anak tipe pembelajar ini.

Minat setiap anakpun berbeda, ada yang lebih suka mengutak-atik angka, kata bahkan berkreasi dengan aneka warna. Wajar jika mereka juga butuh dukungan yang berbeda untuk setiap bakatnya tersebut. Di sinilah metode Homeschooling mencoba mengembangkan sudut pandang baru dari pendidikan dan sekolah. Anak dipandang sebagai individu yang berbeda, karena itu mereka butuh model dan metode yang berbeda pula.

Homeschooling didesain untuk membantu anak belajar sesuai minat dan bakat, dengan cara yang sesuai, kapan saja, dengan siapa saja dan dalam situasi apa saja dengan cara yang meyenangkan untuk anak.

Hal yang Menjadi Poin Minus untuk Mempertimbangkan Homeschooling

  • Butuh komitmen dan keterlibatan tinggi dari orangtua
  • Orangtua harus selalu belajar materi pelajaran anak
  • Sosialisasi relatif rendah. Anak relatif tidak terekspos dengan pergaulan yang heterogen secara sosial
  • Ada risiko kurangnya kemampuan bekerja dalam tim organisasi, dan kepemimpinan
  • Perlindungan orangtua dapat memberikan efek samping ketidakmampuan menyelesaikan situasi sosial dan masalah yang kompleks yang tidak terprediksi

Perbedaan Homeschooling dan Sekolah Formal

Apa saja perbedaan homeschooling dan sekolah formal? Simak pembahasan berikut ini..

  • Sistem Pendidikan

Sekolah Formal menggunakan standarisasi sesuai standar yang dipikirkan lembaga sekolah dan Departemen Pendidikan Nasional, sedangkan Homeschooling sesuai kebutuhan anak dan kondisi keluarga.

  • Fasilitas Pembelajaran

Sekolah Formal memiliki fasilitas yang lengkap dan bagus, seperti perpustakaan yang lengkap, laboratorium bahasa dan sains, lapangan olahraga dan kolam renang, dan fasilitas-fasilitas lainnya, sesuai dengan sekolah yang dipilih, terutama sekolah-sekolah internasional, sedang Homeschooling secara umum lebih simple dan efisien, hanya menggunakan fasilitas yang ada.

  • Kurikulum

Sekolah Formal memiliki kurikulum relatif lebih “ketat” karena dirancang oleh para pakar dan praktisi pendidikan yang ada di Lembaga Sekolah (kurikulum sekolah) dan Departemen Pendidikan Nasional (kurikulum nasional), sedangkan Homeschooling memiliki kurikulum lebih fleksibel karena boleh menggunakan kurikulum seperti sekolah formal atau mengikuti kurikulum dari luar negeri, atau membuat kurikulum khusus sesuai kebutuhan dan minat anak.

  • Jadwal Belajar

Sekolah Formal terjadwal secara ketat, sedangkan Homeschooling fleksibel, tergantung kesepakatan orangtua dan anak.

  • Penanggungjawab Pendidikan

Sekolah Formal sekolah dan guru, sedangkan Homeschooling orangtua

  • Model Belajar

Sekolah Formal relatif sudah mapan dan biasanya turun temurun, orangtua hanya memilih sekolah yang diinginkan dan mengikuti model belajar di sana, sedangkan Homeschooling membutuhkan komitmen dan kreativitas orangtua untuk mendesain dan melaksanakan model belajar sesuai kebutuhan anak.

  • Peran Orangtua

Sekolah Formal tidak begitu dominan, karena pendidikan dijalankan sistem dan para guru, tetapi masih dapat terlibat secara aktif, sedangkan Homeschooling dominan, sangat menentukan keberhasilan pendidikan anak.

Well, itulah sedikit pembahasan kita mengenai homeschooling. Baik dengan menggunakan sistem pendidikan formal maupun sistem pendidikan homeschooling, peran serta orangtua lah yang sangat menentukan pendidikan anak.