Bagaimana Seseorang Dapat Dikatakan Intelek?

Intelek, intelektual, kaum intelektual. Maybe, lo pernah dengar la ya kata tersebut? Nah, menurut lo, gimanasih seseorang biar dikatakan intelek. And, apa maksud sebenarnya bicara intelek itu?

Okey, sebelumnya, untuk nunjukin kalau kita seseorang intelek itu nggak harus menggunakan kata kayak kontroversi hati, nah dalam konteks ini lo tau la ya siapa yang melekat dengan jargon tersebut, hehe… Why? bukankah kata-kata yang sering keluar dari beliau adalah kata yang jarang didengar orang banyak.

Sejauh ini mungkin kebanyakan orang mikir kalau intelektual itu adalah penggunaan kata yang nggak lazim, atau istilah yang terdengar aneh dan penggabungan istilah yang tidak relevan satu yang lain. Nah, jika lo paksa menggunakan istilah-istilah tersebut dalam konteks yang nggak tepat, tak menutup kemungkinan orang menilai lo jadinya sok-sokan intelek.

Nah, kalau gitu omongan yang intelek itu yang gimana dong? Apakah harus ngomong dengan bahasa formal baru bisa dibilang intelek? Atau harus hanya sopan aja? Kalau menurut gue sih nggak. Hehe, mungkin lo bisa ngebayangi la ya gimana cara gue menulis artikel, gue nggak melulu pakek bahasa formal nih. But, kalau sopan satu mungkin iya kaliyaa, keep smile guys.

So, kalau gitu kira-kira apa dong yang penting? Okey, yang pengen gua sampaikan disini sebenarnya gue dapat dari buku Critical Thinking (by Bassham, Irwin, Nardone and Wallace). Nah, jadi dalam buku tersebut, ada satu bagian yang membahas delapan aspek Universal Intellectual Standard. Tunggu! Serius nggak sih, masak iya ada yang namanya standard universal untuk intelaktual.

Yes, standard itu penting banget untuk lo terapin dalam berpikir maupun berkomunikasi, terutama ketika lo pengen tau kualitas pemikiran lo ketika berpikir, berdebat sama orang lain ataupun mendiskusikan sebuah masalah. Intinya, lo selalu ingat deh 8 aspek yang bakal gue tulis disini. Nah, sebelum gue mulai aspeknya, ada baiknya untuk lo tau pengertian sebenarnya intelektual.

Pengertian Kecerdasan Intelektual

Kecerdasan intelektual lazim disebut dengan intelegensi. Istilah ini dipopulerkan kembali pertama kali oleh Francis Galton, seorang ilmuwan dan ahli matematika yang terkemuka dari Inggris. Inteligensi adalah kemampuan kognitif yang dimiliki organisme untuk menyesuaikan diri secara efektif pada lingkungan yang kompleks dan selalu berubah serta dipengaruhi oleh faktor genetic.

Menurut spearman, mengelompokan inteligensi ke dalam dua kategori. Kategori yang pertama adalah g-faktor atau biasa disebut dengan kemampuan kognitif yang dimiliki individu secara umum, misalnya kemampuan mengingat dan berpikir. Kategori yang kedua disebut dengan s-factor yaitu merupakan kemampuan khusus yang dimiliki individu.

G faktor dalam kecerdasan intelektual lebih merupakan potensi dasar yang dimiliki oleh setiap orang untuk belajar dan beradaptasi. Intelligensi ini dipengaruhi oleh faktor bawaan. Sedangkan faktor s merupakan intelligensi yang dipengaruhi oleh lingkungan sehingga faktor s yang dimiliki oleh orang yang satu akan berbeda dengan orang yang lain. Akan tetapi setiap faktor s pasti mengandung faktor g. Sudah jelas guys? kalau begitu siap dong untuk lo ketahui aspek-aspek yang gue maksud tadi, langsung aja kita mulai yah.

CLARITY atau KEJELASAN

Okey, yang pertama kali ialah clarity yang memiliki arti yaitu kejelasan. Nah, ni sedikit share aja guys, gue sering banget dapat pertanyaan yang gue rasa nggak jelas, tapi gue nebak aja kira-kira maksdunya kemana. Bingung? Nih gue kasih contoh, gimana sih cari buat belajar bimbel di ZX? Nggak bisa men, lo nggak bisa membuat bimbel di ZX? karna kita nggak nerima siapapun untuk membuka bimbel di ZX?

Nah, kalau gue tebak, sebenarnya maksud pertanyannya bukan itu. Mungkin maksudnya adalah di pengen bimbel di ZX, dan pengen tau cara daftarnya itu gimana. Jadi, kala memang benar begitu, gue rasa di bisa memperbaiki pertanyaannya menjadi, gue mau daftar bimbel di ZX nih, gimana ya caranya?

Sebanarnya banyak cara untuk kita berkomunikasi dengan jelas, nggak selalu harus formal. Komunikasi informal pun bisa jelas juga kok.

ACCURACY atau KETEPATAN

Next, yang kedua ialah accuracy atau ketepatan. Jadi, apapun yang bakal lo omongin ke orang, lo kudu wajib ngecek keabsahanya. Karna, ini bagian yang sangat serius penting sepenting-pentingnya. Walaupun untuk ngecek sesuatu itu benar atau salah emang susah banget, tapi ya mau gak mau lo harus latih dan biasakan.

Kalau lo masih nggak ngeh, mungkin lo butuh contoh. Gue yakin lo pasti sering la ya dengar jargon-jargon motivasi yang sebanarnya sama sekali nggak akurat. Salah satunya ada pernah gue bahas di tentang mitos otak kanan dan otak kiri.

Selama ini orang-orang pada rame banget ngomongin tentang otak kanan dan otak kiri, eh taunya cuma mitos doang. Terus, ada juga Broadcast pesan-pesan kayak Aspartame penyebab wabah pengerasan otak atau sumsum tulang belakang dan lupus, udang dan vitamin c menjadi racun. Padahal sebenarnya itu cuma hoax lho, kalau lo nggak percaya lo bisa googling deh.

Saran gue sih, kalau mau ngecek sesuatu itu lo bisa mulai dengan Wikipedia, terutama yang berbahas inggris. Terus kalau lo pada lihat angka [1], [2], [3] gitu-gitu di wiki lo jangan keburu sekip deh. Hover mouse lo keatasnya, akan muncul tulisan kayak gini :

 

PRECISION atau KETELITIAN

Akurasi ketepatan sama Presisi ketelitian itu dua hal yang berbeda yah. Simple-nya gini, gue bisa nebak berapa tinggi badan lo secara akurat sekarang juga. Pasti tinggi badan lo adalah antara 1 meter dan 3 meter. Bener nggak tebakan gue? Gue sih yakin bener, tapi ya jelas itu nggak presisi. Dan, kalau gue bilang tinggi badan lo itu antara 1 meter dan 3 meter, itu nggak informatif sama sekali. Semua orang juga tau. Tapi kalau gue bilang, Tinggi badan si X adalah 169 cm, itu adalah kalimat yang informatif, karena data yang dikasih lebih presisi dibanding cuma antara 1m s.d 3m”.

Nah, berkomunikasi tuh juga gitu. Bisa nggak, kita menyampaikan sesuatu dengan lebih detil? Bisa nggak, kita lebih spesifik terhadap apa yang lagi kita omongin?

RELEVANCE atau RELEVANSI

Berikutnya adalah relevansi. Maksudnya gini, kalau lo lagi ngebahas satu konteks masalah, apa pun hal yang lo kemukakan harus sesuai dan nyambung sama konteks yang lagi dibahas. Kesalahan umum yang seringkali dilakuin sama orang-orang adalah…

Pada saat kita lagi ngebahas satu topik, kita kadang suka asal nyablak aja ngomong hal yang terlintas di pikiran kita, yang tanpa kita sadari bahwa itu sebenernya nggak nyambung sama apa yang lagi dibahas. Contohnya misalnya gini deh :

A : Menurut lo gimana sih caranya supaya Ibukota nggak macet?

B : Iya, ini pasti karena kesalahan pemerintah yang nggak becus!

Lo bisa lihat kalau si B ngerespons hal yang sama sekali irrelevant dengan yang lagi dibahas. Konteks yang lagi dibahas kan “gimana caranya supaya Jakarta nggak macet”, tapi ini tau-tau nyambung ke “pemerintah nggak becus”. Pertanyaan si A itu sebenernya bisa direspon dengan pernyataan yang lebih relevan, misalnya :

Menurut gue, solusinya adalah kita bikin transportasi umum yang memadai supaya orang lebih tertarik berkendaraan dengan transportasi umum dibanding naik mobil pribadi.

CONSISTENCY atau KONSISTENSI

Dalam rumus matematika kiranya akan lebih muda buat gue ngasih contoh konsistensi. Misalnyanih, lo punya pernyataan kalau x = 3 Terus lo kasih lagi pernyataan 2x + 12 = 10

Secara matematis, pernyataan pertama dengan pernyataan ke dua ini nggak konsisten. Yang satu bilang x harus sama dengan 3, sementara yang satu lagi kalau kita jabarin, bilang kalau x harus sama dengan -1. Nggak mungkin dong x sama dengan tiga DAN x juga kurang dari -1? Berarti salah satu pasti salah. Nggak mungkin dua-duanya bener.

Nah, dalam berpendapat, kita juga bisa nggak konsisten. Awalnya ngomong A, terus berikut-berikutnya ngomong sesuatu yang kontradiktif dengan A. Itu namanya nggak konsisten secara logika. Selain itu, bisa juga lo nggak konsisten antara yang diomongin dengan yang dilakuin

LOGIC atau LOGIKA

Nah, kalau bagian ini, kita udah sering banget ngomongin. Banyak juga konten kita yang ngebahas tentang logika, ini gue daftarin yah:

  • Latihan Soal Logika TPA 1
  • Latihan Soal Logika TPA 2
  • Basic Thinking and Reasoning Skills
  • Logika Matematika di kelas 10 SMA

Di sini, gue bahas salah satu kesalahan yang umum aja, misalnya gini:

Premis 1: “Kalo turun hujan, pasti jalanan jadi basah”

Premis 2: “Jalanan basah”

Kesimpulan: “Oh pasti tadi turun hujan”

Nah, itu contoh yang kesimpulan yang salah. Karena premisnya bilang kalau turun hujan, jalanan jadi basah, bukan sebaliknya. Sama aja kalau gue bilang gini, kalau dia orang Indonesia, maka dia orang Asia premis 1.

Terus gue bilang lagi, Nakamura adalah orang Asia premis 2. Apakah bisa gue simpulkan kalau Nakamura adalah orang Indonesia? Jelas nggak bisa. Maaf, gue nggak bahas panjang-panjang tentang logika di sini ya, kalau lo penasaran lo bisa search aja di google.

COMPLETENESS atau KELENGKAPAN

Aspek berikutnya adalah kelengkapan. Maksudnya gini, dalam proses lu menganalisa sesuatu, upayakan hal itu dilakukan secara lengkap. Secara general, penjelasan yang lengkap itu berarti nggak ada hal yang perlu kita tambahin lagi; nggak kurang dan nggak lebih.

FAIRNESS atau KEADILAN

Nah, aspek yang terakhir adalah fairness. Kalau gue terjemahin ke bahasa Indonesia, sebenernya ini artinya keadilan. Tapi keadilan itu juga bisa berarti justice, padahal bukan itu maksud gue. Jadi untuk yang ini, kita pake bahasa inggrisnya aja: Fairness. Maksudnya gimana nih?

Maksudnya, dalam setiap kita mikir dan juga menyampaikan sesuatu, pastiin bahwa pertimbangan kita bebas dari segala macam bias, prejudice, asumsi nggak jelas, subjektivitas, stereotype, dendam pribadi, ketidaksukaan dan sebagainya

Maka segala hal yang kita sampaikan bisa didasarkan pada pertimbangan yang jernih kalo sejak awal kita bisa berpikir secara fair, open-minded, objektif, serta bebas dari segala bias.

Jadi kira-kira gitu deh penjabaran tentang Universal Intellectual Standards. Terus ada lagi nih… dengan membaca tulisan ini dan tau semua standard itu, bukan berarti bisa langsung nerapin ini dalam keseharian. Gue sendiri kadang-kadang juga masih silap. Hehe… karena itu memang butuh latihan. Sama kayak belajar Matematika atau Fisika, nggak langsung bisa cuma dengan baca doang kan? Itu perlu dilatih terus-menerus, makin lama makin perfect.

Salah satu contoh latihannya nih, di bagian accuracy misalnya, dengerin statement-statement orang atau bisa juga statement lo sendiri yang bisa dicek kebenarannya dengan nyari data yang akurat. Untuk bagian logika, gue rasa udah banyak banget konten-konten yang melatih itu.

Lo bisa juga latihan dengan bikin tulisan nulis di blog misalnya. Kadang debat di internet juga bisa jadi tempat latihan juga sih. Dan, yang namanya pengetahuan dasar basic math, basic natural science, basic social science juga penting buat lo kuasain. Karena ketika kita belajar pengetahuan dasar itu dengan bener, secara nggak langsung kita melatih diri kita juga untuk bisa ngikutin standard di atas. Sekian guys, semoga ini bermanfaat! In till next time